uang

Amplop putih kecil itu ternyata ada dua. Satu berisi Rp 15 ribu dari caleg Partai Bulan Bintang (PBB). Lainnya berisi Rp 10 ribu dari caleg partai Nasional Demokratik (Nasdem). Yang luar biasa, kedua amplop ini diantar dari rumah ke rumah oleh Pak RT. Terbayang, betapa korupsi masuk secara sistematis dalam skala Rukun Tetangga. Menyeramkan.

Ini minggu tenang, sebelum besok – 9 April 2014, Pemilu untuk anggota DPR berlangsung. Tak ada yang istimewa sejak pagi. Hingga malam hari saya bermain ke rumah tetangga. “Mbak sudah dapat amplop putih?”, tanya tetangga saya, di tangannya ada amplop yang sudah sobek sepertiganya.

“Amplop apa mbak?”, tanya saya. Itu buat milih besok, ujarnya. “Itu Pak RT dan suami saya di rumah mbak Nur”, tambahnya. Tiap keluarga dapat satu amplop.

Amplop putih kecil itu ternyata ada dua. Satu berisi Rp 15 ribu dari caleg Partai Bulan Bintang (PBB). Lainnya berisi Rp 10 ribu dari  caleg partai Nasional Demokratik (Nasdem). Yang luar biasa, kedua amplop ini diantar dari rumah ke rumah oleh Pak RT. Terbayang, betapa korupsi masuk secara sistematis dalam skala Rukun Tetangga. Menyeramkan.

Menurut tetangga saya, sebetulnya Pak RT mendapatkan dana Rp 2 juta, untuk diberikan kepada 2 blok. Namun blok ini jumlah keluarganya banyak, ada yang 130 keluarga. Pak RT pusing memikirkan bagaimana membaginya. Saya lebih pusing lagi, memikirkan gobloknya Pak RT yang bersedia disuruh ngider dana serangan fajar dari satu rumah ke rumah lain.

Ketika saya tanya, kenapa diberi amplop. “Biar ngasih suara buat Pak X mbak. Kan katanya mending pilih yang dekat dan kita tahu”, ujar tetangga saya. Benar, pilih tetangga dekat tanpa perlu tahu, apakah benar Pak X ini selama jadi anggotaDPRD lima tahun sebelumnya benar-benar memperjuangkan lingkungan mereka. Padahal jelas terlihat, dalam setahun terakhir jalan-jalan di komplek perumahan Adiyasa rusak berat gara-gara truk besar lalu lalang menggunakan jalan Negara untuk mengangkut bahan tambang galian C, bahkan melintas kantor polisi setempat.

Murah betul para calon DPR ini memperlakukan rakyat, yang jauh dari informasi, yang belum sadar pentingnya PEMILU. Jika malam ini ada dua partai saja yang memberi amplop berisi totalnya Rp 25 ribu untuk satu keluarga. Jika ada 2 orang yang punya hak pilih dalam keluarga tersebut, maka ia akan menerima Rp 12.500 untuk segala resiko politik ekonomi dan sosial karena memilih si caleg sepanjang lima tahun ke depan. Atau Rp 6,85 per hari.

Sungguh, saya tak menduga sedemikian dalam kebobrokan para politisi, pejabat publik hingga warga negara di Negeri ini. Saya tak bisa membayangkan para aktivis yang mendadak menjadi caleg DPR pada PEMILU kali ini berhasil menembus sistem politik yang bobrok dan mengurat akar ini.