perkampungan buruh Lonmin di Marikana (Mai jebing, 2013)

perkampungan buruh Lonmin di Marikana (Mai jebing, 2013)

dimuat Majalah Forum Keadilan edisi 21 – 27 Okt. 2013, oleh Siti Maimunah, Jatam

Pembantaian Marikana, saat 34 buruh tambang ditembak mati dan 270 lainnya terluka adalah biaya  sosial dan lingkungan yang menopang  komplek industri militer, elektronik, otomotive dan perhiasan. ***

Ingat Marikana? Lokasi tambang platinum perusahaan tambang Lonmin di kota Rustenberg, Afrika Selatan. Di sebuah siang,16 Agutus tahun lalu,  ribuan buruh Lonmin melakukan demontrasi damai menuntut kenaikan gaji. Tapi  bukangaji naik yang didapat, tapi berondongan peluru.  Ada 34 buruh ditembak mati dan 270 lainnya terluka.

Setahun lebih setelah kasus penembakan itu, Marikana tak banyak berubah. Pemukiman para buruh masih  sama. Berjejer tak beraturan,  bersama  kakus, tiang jemuran dan  pagar-pagar kawat. Pas di bawah Saluran Listrik tegangan tinggi,  yang mamasok energi ke smelter platinum Lonmin. Rumah-rumah mereka juga tak bertambah luas, masih  sekitar  9 meter persegi, dindingnya dibuat dari seng, yang dicat warna-warni agar tak kelihatan  bekas sambungan seng-seng bekas. Mereka hidup dalam kondisi dililit kemiskinan.

Tak hanya Lonmin disana. Rustenberg  yang dulunya kawasan pertanian, mulai ditambang sejak 1920 itu kini dikelililingi puluhan  bangunan tambang bawah tanah dan  smelter milik Impala, Aquarius  dan perusahaan tambang lainnya. Kawasan ini memasok  setengah produksi  platinum Afrika Selatan, yang memasok 80% kebutuhan platinum dunia.

Tidak semua tempat mengandung Platinum sebanyak Afrika Selatan. Dalam  7 – 12 ton bijih platinum hanya akan didapat  1 ounce platinum, atau sekitar 28,35 gram. Bersama Rusia, Afrika Selatan memasok kebutuhan 90 persen Platinum dunia.

Meski tebatas, logam ini dicari karena sifatnya yang tahan panas dan karat. Setidaknya dibutuhkan waktu 6 bulan dan suhu 1500 derajad celcius untuk menghasilkan platinum. Platinum jelas rakus lahan, air dan energi fosil.

Logam ini lebih langka dari emas, penghantar panas lebih baik dari perak dan kepadatannya lebih baik dari timah hitam (lead). Sifat tersebut membuatnya dibutuhkan industri tertentu dan militer. Logam ini bisa ditemukan pada bulpen mewah hingga alat pengebom B-1 siluman, stealth.

Ini salah satu logam penting bagi militer. Kontraktor pertahanan membutuhkan platinum  untuk artileri biasa hingga peralatan luar angkasa, citra satelit dan komputer untuk persenjataan. Logam ini sangat dibutuhkan Pentagon.

Tapi tak hanya industri militer, permintaan platinum dari industri  automotive juga meningkat mencapai 38 persen, jumlah yang sama dikonsumsi industri  perhiasan.

Jelas, negeri bekas apartheid ini  menopang  industri militer, elektronik, otomotive dan gaya hidup – lewat industri perhiasan. Merekalah yang  sebenarnya dilayani pemerintahan Afrika Selatan. Di Rustenberg, 75 persen pekonomiannya bergantung pada tambang, yang menempati kawasan sangat luas.

Rakyat cukup nomer dua. Buruh-buruh Lonmin banyak pendatang dari kawasan-kawasan yang dimiskinkan di masa apartheid. Mereka dijuluki pemukim ilegal,  menempati pemukiman-pemukiman ” informal”, dan tak diurus negara. Mereka tak punya hak mendapatkan layanan Negara. Di sana, mengurus Kartu Tanda Penduduk pun bisa bertahun-tahun.

Akhirnya kita harus membaca peristiwa pembantaian Marikana dari kaca mata lain.  Kejadian ini bukan sebatas aksi buruh menuntut gaji dan diberondong peluru. Marikana dan sekitarnya merupakan sirkuit kapital yang memastikan industri militer, elektronik, otomotive dan perhiasan – di negara-negara industri terus berdenyut. Marikana salah satu titik penting yang menopang agresi militer Amerika Serikat ke negara lain.

Tak hanya menopang industri elektronik dan otomotive, tapi juga industri infrastruktur pendukungnya. Contohnya Mobil. Memproduksi mobil, membutuhkan logam besi, nikel dan aluminium, yang penambangannya juga dilakukan di negara-negara selatan. Setelah pasar Eropa jenuh dan dihantam krisis ekonomi, kini penjualan dipindahkan ke Asia dengan judul Mobil murah. Mobil murah masal tentu membutuhkan lahan untuk membangun pabrik mobil, toko-toko penjualan, jalan raya dan tempat parkir.

Denyut industri perhiasan dan gaya hidup warga kota juga terkait dengan Marikana. Amerika Utara dan Eropa adalah konsumen tertinggi perhiasan. Perhiasan berbahan Platinum kini makin diminati selebritis. Mereka bangga menggunakan logam langka ini tanpa merasa harus tahu dari mana ia berasal.

Pembantaian Marikana adalah biaya  sosial dan lingkungan bagi  komplek industri yang ditopangnya – militer, elektronik, otomotive dan perhiasan.  Itu menggerakkan sirkuit kapital di sekitarnya, dengan biaya semurah-murahnya.  Sementara pengurus Negara sibuk menyediakan segala persyaratan untuk penumpukan kapital  tersebut. Pembantaian buruh itu tak ada apa-apanya di mata mereka.

Tapi Marikana tak sendiri. Wajahnya ada dimana industri pertambangan beroperasi, seperti di Bangka Belitung (Babel)  Indonesia, yang sudah ratusan tahun melayani pasokan timah dunia.

Indonesia memasok 80 persen kebutuhan timah dunia, sekitar 90 persennya digali dari Babel.  Penggalian timahitu memiliki sejarah kelam.  Sekitar tahun 1970-an, ada  500 orang terbunuh karena operasi militer terhadap penyelundup timah, sementara 500 orang lainnya mati di penjara. Jauh sebelum itu, timah telah menjadi komoditas dagang yang memicu peperangan. Sejak jaman kerajaaan Palembang hingga penjajahan. Tak terhitung korban yang jatuh.

Sekarang, hampir seluruh daratan Babel memilki konsesi tambang, dan warisan kerusakan luar biasa. Ada masa dimana para penambang ini menggali dimana-mana, termasuk daratan, fasilitas publik – macam jalan raya dan sekolah, sungai, pesisir dan laut, hutan produksi juga hutan lindung. Akibatnya, lingkungan rusak berat.

Pada 2004 saja, ada 10 sungai tercemar dan bertambah 2 lagi dua tahun kemudian akibat maraknya pertambangan. Pada 2008, tercatat  60 persen luasan hutan kawasan Bangka Belitung rusak, dan 25 persennya rusak berat. Pada 1998  sudah ada sekitar 887 lubang bekas tambang, atau kolong yang dibiarkan begitu saja, dikabarkan ini sama dengan luasan 0,1 persen luasan pulau.

Belakangan, Penelitian LIPI dan Universitas Bangka Belitung menemukan logam Fe, Al, Mn, Zn dan Pb adalah logam berat terbesar di perairan kolong. Butuh waktu puluhan tahun, setidaknya 20 tahun, logam berat akan mengendap di sedimen kolong.  Logam berat pada konsentrasi  tinggi bila masuk kedalam tubuh manusia akan menyebabkan gangguan kesehatan hingga kematian pada manusia.

Setelah di kawasan daratnya bertebaran lubang-lubang tambang menganga, kini giliran lautnya  dirusak. WALHI memperkirakan 72 juta meter kubik limbah tailing dihasilkan sekitar 73 kapal isap yang beroperasi di perairan Pulau Bangka. Merusak separuh terumbu karang di pulau ini.

Industri elektronik membutuhkan timah untuk solder. Dalam tiap handphone ada sekitar 2 gram timah. Rakyat dan lingkungan Babel sejak lama mensubsidi  industri elektronik yang bermarkas di negara-negara industri.

Marikana dan Babel wajah sebenarnya negara-negara industri yang kerap kita sebut negara maju. Mereka sejahtera dengan  meneruskan model penjajahan yang sama,  ongkos yang sama, pemiskinan dan kerusakan lingkungan di negara-negara selatan.

Di Afrika Selatan, praktek  apartheid  belum pergi,  terus beranak pinak melalui ekspansi industri tambang  platinum, emas dan lainnya. Hebatnya, berkat kapitalisme, penjajahan masa kini nyaris tak terasa. Di Indonesia, kelas menengahnya terakumulasi di kota menjadi  sangat pendiam dalam zona nyamannya, penguasanya terus mencuri uang rakyat lewat korupsi.

Puluhan tahun lalu,  Soekarno mengingatkan situasi ini. “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Soekarno benar.  Tantangan bertambah berat ke depan, apalagi di tengah krisis iklim. Tapi ini tak akan  mengurangi semangat, apalagi menghentikan perjuangan memastikan keselamatan rakyat dan lingkungan.

Protes buruh di Marikana, protes nelayan di pesisir Bangka Belitung hanyalah setitik tanda, bahwa rakyat di belahan dunia dengan cara beragam  melawan kapitalisme, dan pemerintahan yang mendukung mereka. Perlawanan yang mesti diperbanyak dan diperluas di banyak tempat.