Bustaman, lurah Bakunase, Mai Jebing - 2011

Bustaman, lurah Bakunase, Mai Jebing – 2011

Sejak dilantik menjadi Lurah pada 2008, Bustaman membuat desa Bakunase berbeda. “Mulanya saya  tidak disukai dan diragukan. Sebab saya orang muslim yang memimpin desa yang mayoritas penduduknya nasrani.  Saya juga bukan suku asli Timor. Asal Flores, pendatang pula. Dan saya masih muda. Lurah-lurah sebelumnya  berumur lebih tua. Lurah yang saya gantikan  usianya 47 tahun”, ujarnya.

Surat  itu diterima Orpa Nubatonis-Lussi  pagi hari, 17 April 2011, diantar petugas berbaju kelurahan, coklat kehijauan. “Ini ada pesan dari  pak Bustaman,’ ujar sang pengantar surat, sebelum pamit  dari hadapan Ibu Orpa.

Orpa bertanya-tanya dalam hati, mengapa ia dapat surat dari Kelurahan langsung, tak melalui  ketua RT. Jabatan Orpa hanya bendahara  RT 15 RW 05 kelurahan Bakunase. Biasanya ia mendapat surat  atau pesan-pesan langsung dari  ketua RT nya. Pelan-pelan ia buka amplop berkepala surat  lambang kelurahan itu. Di dalamnya ada sebuah kartu. Dibukanya kartu berwarna putih  itu hati-hati.  Ia membaca sejenak tullisannya.

Atas nama Pemerintah kota Kupang,  Khususnya pemerintah keluraan Bakunase Mengucapkan Selamat Ulang Tahun kepada Ibu Orpa Nubatonis-Lussi.

 Semoga panjang umur dan diberkati Tuhan dalam Pekerjaan dan Rumah Tangga.

Di bawah tulisan ada tanda tangan sang lurah dan stempel asli kelurahan berwarna ungu tua. Hari ini memang ulang tahun Orpa yang ke 37. Tapi ia tak menyangka Pak Lurah tahu tanggal lahirnya, apalagi mengucapkan selamat dengan mengirim kartu ucapan.  Ia merasa  bangga dan terharu. Matanya berkaca-kaca. Tak pernah sebelumnya ia mendapat surat ucapan Ulang tahun.  Ia merasa berarti bagi kelurahan ini.

Orpa tak tahu, di meja Bustaman – sang lurah Bakunase ada selembar kertas dengan deretan nama, tanggal lahir dan alamat. Itu nama-nama pengurus desanya, dari pegawai kelurahan hingga Rukun Tetangga. Sang lurah akan mengirimkan kartu ucapan kepada nama-nama itu saat  Hari Ulang tahun mereka.

Itulah salah satu cara lurah Bakunase membuat warganya bersatu dan kompak, serta mendukung program-program desa.

Sejak dilantik menjadi Lurah pada 2008, Bustaman membuat desa Bakunase berbeda. “Mulanya saya  tidak disukai dan diragukan. Sebab saya orang muslim yang memimpin desa yang mayoritas penduduknya nasrani.  Saya juga bukan suku asli Timor. Asal Flores, pendatang pula. Dan saya masih muda. Lurah-lurah sebelumnya  berumur lebih tua. Lurah yang saya gantikan  usianya 47 tahun”, ujarnya.

Tapi Bustaman membuat warganya jatuh cinta, dan berbalik menyayanginya. Ia melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan Lurah sebelumnya. Ia ngobrol dengan pemabuk di pinggir jalan, mengunjungi rumah warga dan makan siang  bersama mereka,  jalan mengelilingi desa bebicara dengan warganya. “Kalau kita tahu apa yang mereka mau, denyut nadinya pun kita tahu, pasti sangat mudah. Kuncinya partisipasi warga”, tambahnya.

Program-program Keluarahan Bakunase penuh melibatkan warga, baik dewasa hingga anak anak. “Sekarang ada LPM, Karang Taruna, Forum Anak, Gugus Tugas, Kelurahan Ramah Anak, Kelompok Perempuan Usaha Kecil (KAPUK), Pendidkikan Keterampilan Keluarga. Sekitar sepuluh organisasi di Bakunase dan semuanya aktif”, ujarnya bangga.

Sebelumnya, tak sebanyak itu, dan sebagian besar tidak berjalan. Salah satu yang menonjol adalah Forum anak, tempat berkumpulnya anak-anak berumur di bawah 18 tahun. Ia bekerjasama dengan Kementrian pemberdayaa Perempuan dan Anak.  Forum ini cukup aktif. “Mereka kadang nonton film, bikin lomba pidato, bikin lomba debat. Mereka kerjakan sendiri itu. Itu lahir sejak 2010. Kelembagaannya kami perkuat “, ujarnya.

Tak hanya mendengar suara langsung rakyatnya. Ia juga bergabung dengan kelompok belajar bervisi yang digagas PIKUL, salah satu Organisasi Non Pemerintah yang bermarkas di Kupang.  Kelompok belajar ini membuat Bustaman mengubah cara pikirnya. Ia melirik aset atau potensi. Masalah apapun menjadi potensi. “Kita jangan lihat masalah. Tapi kita lihat potensi. Kita tidak usah pikir kelurahan. Diri sendiri dulu. Kalau diri sendiri saja kita pikir masalah, maka tak akan ada  habisnya. Tapi kalau kita  pandang itu sebuah potensi, maka kita akan berambisi untuk kita gali dan kembangkan”, ujarnya.

Ia percaya banyak potensi yang bisa kdikembangkan di kelurahannya. Limbah tahu tempe dan limbah ternak misalnya. Di Bakunase ada 25 pabrik tempe. Warga mengeluhkan masalah limbah tahu. Masalah ini justru dilihat sebagai potensi oleh Pak Lurah. Ia kerja bareng Gank Imut, membuat limbah itu menjadi biogas. Limbah itu kini sumber biogas. Bakunase yang kaya air, dibuatnya menjadi pemasok ikan Lele terbesar di Kupang.

Upayanya menuai buah manis. Tahun 2010 Bakunase mendapat juara satu lomba  Green and Clean. Mereka juga juara tiga kali berturut lomba pembuatan gapura dari bahan daur ulang. Bakunase juga meraih juara Ketiga Kelurahan terfavorit pilihan pemirsa pembaca Koran. Juara Kesatu paduan suara ibu-ibu PKK. Juara Kedua lomba tarian Ja’I se kota Kupang untuk anak Karang Taruna.

Sejak memandang semuanya adalah potensi. Lebih banyak yang diraih Bakunase.

@ ditulis untuk dokumentasi pembelajaran program PIKUL-OHK, 2011