penyulingan nilam, biasanya ada di pinggir sungai. foto Mai Jebing/2011

penyulingan nilam, biasanya ada di pinggir sungai. foto Mai Jebing/2011

Lembah-lembah  sungai  pada senja hari terasa misterius di  desa Tanjung Benuang.  Bau harum tercium samar dekat perkampungan, makin mendekati sungai harumnya meruyak.

Tak jauh dari sungai terlihat  bayangan pondok pondok terbuka  dengan drum besar menjulang di atas tanah, mirip periuk nasi raksasa. Itu tempat penyulingan minyak nilam. Nilam kini topik utama desa. Minyak yang digunakan untuk sepertiga produk parfum dunia ini mengubah Tanjung Benuang. Mereka yang dulunya menanam Padi semuanya beralih menanam nilam. Kebutuhan beras mereka kini sepenuhnya bergantung wilayah lain.

Desa Tanjung Benuang terletak di kecamatan Sungai tenang, Merangin, propinsi Jambi. Dulunya, keseharian warga adalah bertani  di sawah dan ladang juga  mengurus kebun. Perempuan dan laki-laki bangun pagi sekali, pergi sholat subuh. Jika laki-laki kembali beristirahat, kegiatan perempuan berlanjut ke Sungai Aro .

Sungai yang mengalir membelah desa tak terlalu besar, lebarnya sekitar tujuh meter. Tapi batu-batu sungai  yang berukuran besar, di pinggir maupun di tengah, membuat suara alirannya bergemuruh. Tiap pagi hingga sore, sungai tak pernah sepi. Perempuan mencuci  dan mandi sejak langit belum terang setelah subuh. Mandi, mencuci sayur, ayam, hingga buang hajat dilakukan di Sungai. Meski beberapa dari mereka memiliki kamar mandi, tapi airnya juga dari sungai. Pendek kata sungai adalah urat nadi desa.

Sungai Aro juga sumber penerangan. “Sejak 1999, kincir angin sudah menjadi sumber penerangan di desa ini.  Mulanya tak semua rumah. Tapi tahun lalu,  desa ini sudah memiliki PLTA secara swadaya” ujar Dum Harta kepala desa Tanjung Benuang yang biasa dipanggil pak Kades. Kini sejak jam 5 sore hingga jam 6 pagi rumah-rumah di sana terang benderang .

Mereka  yang memiliki Televisi bisa menyaksikan siaran langsung sepak bola dari rumah masing-masing. “Asalkan sanggup bayar”, tambahnya.

PLTA atau Pembangkit Listrik Tenaga Air  yang dimaksud Pak Kades sebenarnya adalah mikrohidro sederhana. Sebuah pondok dari kayu, yang diletakkan di pinggir-pinggir sungai. Di situ dipasang mesin pembangkit listrik yang memanfaatkan  arus sungai Aro.

Sejak tahun lalu, sumber penerangan desa ini beralih dari listrik kincir angin  ke PLTA.  Setiap keluarga dikenai iuran Rp 3 juta hingga Rp 4 juta. Sejak nilam menjadi penghasilan utama, kehidupan petani membaik, mereka mampu membayar iuran swadaya, ujar Pak Kades.

Petani nilam juga  membutuhkan banyak air, khususnya air yang mengalir, air sungai, saat proses penyulingan. “Itulah mengapa penyulingan nilam banyak dibangun di tepi-tepi sungai. Untuk satu kali penyulingan dibutuhkan ratusan liter air, belum lagi air yang mengalir terus menerus untuk mendinginkan pipa putih ini”, ujar Hadianto, 26 th. Siang itu ia sedang duduk santai di atas motornya dekat gubuk pengilangan nilam. Penyulingan ini milik pamannya.

Banyak anak laki-laki yang bahkan lebih muda dari Hadianto bekerja menjaga penyulingan. Siang itu  ada sekitar enam anak muda yang menghampiri  penyulingannya. Mereka bercanda sambil minum larutan berwarna ungu terang.

“Ini kuku Bima untuk menambah energi”, ujar Rudi – teman Hadianto,  tersenyum sambil menunjukkan botol air mineral berukuran 1,5 liter penuh berisi larutan Kuku Bima. Alat penyulingan yang dijaga pemuda-pemuda ini saling berdekatan. Hanya saja penyulingan ini paling dekat dengan jalan utama desa, itu sebabnya menjadi tempat favorit  mereka.

“Menyuling bisa dilakukan sambil santai, hanya memastikan apinya terus menyala dan airnya  tidak kering”, ujar Hadianto. Alat penyulingan minyak nilam  yang dijaganya terlohat sangat sederhana untuk minyak yang harganya mencapai Rp 450  ribu sekilonya.

Alat suling ini terdiri dua bagian, bagian pertama terbuat dari drum untuk meletakkan nilam, sementara drum kedua untuk melatakkan air rebusan. Drum pertama diletakkan vertikal,   yang kedua  horisontal, lantas disambungkan oleh sebuah lubang ditengah drum kedua. Drum ini dirancang sedemikian rupa sehingga keduanya tak terlepas  kala tekanan air naik saat proses perebusan. Drum kedua ditanam di tanah sementara yang pertama di atas permukaan.  Di bawah drum adalah tungku kayu bakar yang apinya terus menyala sedikitnya 6 hingga 7 jam.

Satu kali penyulingan dibutuhkan setidaknya  450 liter air  untuk mengisi drum kedua, merebus nilam yang diletakkan pada drum di atasnya. Satu kali perebusan membutuhkan 2 karung nilam berukuran 100 kilogram. Nilam yang sudah dikeringkan dan dicacah  dimasukkan kedalam drum pertama hingga penuh, siap direbus.

Tutup drum dihubungkan dengan pipa panjang  hingga 6 meteran yang berujung pada tempat penampungan minyak. Sekitar 4 meter panjang pipa ini terendam dalam air  yang mengalir terus menerus, mendinginkan pipa dan menghasilkan embun, berubah menjadi air yang tetesannya jatuh di penampungan minyak.

Hasil akhir penyulingan minyak ini adalah minyak nilam bercampur air. Minyak Nilam selalu mengapung sehingga mudah dipisahkan. Satu kali penyulingan menghasilkan 1 kilogram minyak nilam. “Bergantung tanamannya, cara panen dan juga saat mencacah”, ujar Hadianto. Kini beberapa orang mencacah hasil panen Nilam menggunakan mesin perontok padi, bahkan pemotong rumput, yang membuat kandungan minyak berkurang.

“Paling hanya dapat 8 mato”, tambahnya. Delapan mato sama dengan 800 gram.

Nilam bisa dipanen  pertama kalinya setelah umurnya mencapai 6 hingga 7 bulan.   Semua bagian tanaman dipangkas hingga meninggalkan pangkalnya di atas tanah setinggi 10 cm. Dalam lima bulan, batang yang dipangkas itu rimbun  lagi daunnya, siap dipanen. Panen ketiga bisa dilakuan  empat bulan setelah panen kedua.

“Setelah itu tanaman harus dicabut dan diganti, sebab hasil minyak nilam lebih sedikit setelah 2 tahun “, ujar Daniar.

DSCN5672Cerita Daniar serupa tutur Min Bachtiar, yang siang itu menyiangi rumput di sela-sela kebun Nilamnya, bersama sang istri. Ia sudah lima tahun  bertani nilam. Menurutnya jumlah panen bergantung pada kesuburan tanah dan perawatan tanaman. “Ada juga yang panen   5  hingga 7 kali  sebelum akhirnya tanam yang baru”, ujarnya.

Panen cepat, harga mahal dan mudah mendapatkan pasar membuat  Nilam menjadi tanaman favorit warga.

Sebenarnya harga minyak Nilam cenderung naik turun, menggambarkan bagaimana petani nilam tak punya hak menentukan harga. “Awalnya kami menjual minyak nilam sekilonya Rp 140 ribu, terus naik pernah mencapai  Rp 1,2 juta  perkilo pada akhir 2008 dan turun hingga kini  menjadi Rp 450 ribu”, tambah Min.

“Di desa Tanjung Benuang setiap minggunya menghasilkan sekitar 200 kilogram minyak Nilam. Hampir tiap rumah punya alat penyulingan sehingga mereka bisa langsung merebus hasil panen”, ujar  Dum Harta, kepala desa Tanjung Benuang.

Jika harga satu kilogram minyak nilam kini Rp 450 ribu. Artinya uang yang beredar selama seminggu mencapai Rp 90 juta, setahun mencapai 4,32 Milyar. Itu baru di satu desa. Padahal  hampir semua desa di kecamatan Sungai Tenang  warganya bertani dan menyuling minyak Nilam.

Hitungan yang menggiurkan. Mungkin itu yang membuat hampir semua petani yang dulunya menanam Padi di desa beralih tanam Nilam.

“Sudah sepuluh  tahun tak menanam Padi, tapi kalau warga sekitar 2 hingga 3 tahun inilah”, tutur pak Kades. Lahan-lahan padi ladang beralih menjadi kebun nilam. Begitupun lahan Kayu Manis atau biasa disebut kulit manis, habis di panen kini ditanami nilam.

Kini, untuk makann tiap hari mereka harus beli beras. ” Di sini orang makan 3 hari sekali. Ibu-ibu memasak pagi, siang dan sore. Harga beras  makin hari makin mahal, satu karung berisi 20 kilo harganya  Rp 185 ribu”, tambah pak Kades. Keluarga Pak kades yang anggota keluarganya 4 orang, keluarganya membutuhkan 15 kilogram perminggu. Itu jika rumahnya tidak kerap didatangi tamu.

Artinya  jika beras sekilo harganya Rp 9250,- maka dalam  sebulan ia membutuhkan dana Rp 555 ribu. Jumlah anggota keluarga di desa ini beragam, kebanyakan 4 hingga 5 orang.  Beras yang dibutuhkan desa ini lumayan besar, setiap minggunya mencapai 3 hingga 4 ton. Biaya pembeliannya mencapai 1,6 Milyar setahun. Angka yang tak kecil.

Namun, Tanjung Benuang yang dulunya memenuhi kebutuhan berasnya sendiri, kini bergantung wilayah lain. Beras, makanan utama mereka kini dipasok daerah sekitarnya, Kabupaten Kerinci, Bungo, Bangko dan lainnya

Ini cerita nilam di sana dua tahun lalu. Cerita tanaman komoditas pasar, yang mulai mengikis kedaulatan  pangan Tanjung Benuang. Tak cuma itu, ke depan kawasan itu bisa saja lapar kayu, jika masyarakatnya tak berupaya keras menanam sendiri kebutuhan kayunya. Apalagi jika percepatan perluasan produksi minyak nilam tumbuh luar biasa, dan rakus kayu bakar.  Hutan-hutan yang ada di sekitarnya bisa terancam rusak.

Kabarnya, satu tahun terakhir , warga di sana mulai menghidupkan kembali sawah-sawah mereka. Semoga benar adanya.

– Sepotong cerita perjalanan bersama  Rudi, Hafidz. Novri dan kawan-kawan Walhi Jambi, saat mengunjungi hutan desa di Merangin, Jambi, 19 purnama lalu.

Advertisements