Puncak Torong Besi, kini rata. Foto Henri-Ismail.tumblr.com

Puncak Torong Besi, kini rata. Foto Henri-Ismail.tumblr.com

Dulu, warga Gincu bisa menebak kapan datangnya hujan ataupun kemarau hanya dengan memandang  puncak Torong Besi. Namun kini gugusan perbukitan itu telah dihancurkan dan disulap menjadi kawasan tambang. Warga hanya menerima getah dari keserakahan perusahaan tambang dan pemerintah.

Torong itu dulunya penanda. Setidaknya bagi warga Gincu, sebuah perkampungan di pesisir Manggarai.  Pertanda  kapan sang langit bersedia membagi air, dan angin barat mulai surut. Dua pertanda yang dipakai petani untuk mulai menyiapkan lahan dan nelayan kembali melaut.

Kampung Gincu pas pada kaki sebuah tanjung di pesisir utara Manggarai.  Penduduk kampung itu sebagian besar nelayan dan petani. Mereka tinggal di kawasan berbukit-bukit tanpa irigasi itu membutuhkan air hujan untuk menanam padi, jagung, tanaman sayuran dan tanaman tahunan. Biasanya Desember hingga April hujan masih datang, bulan baik untuk bertani. Sementara Minggu kedua Februari mestinya angin barat mulai berkurang dan melaut lebih aman bagi nelayan.

Tapi apa pun musimnya, warga Gincu bisa menebak  dari jauh, hanya dengan memandang  puncak Torong Besi, atau Tanjung Besi. Gugusan perbukitan yang menjorok ke laut itu berdiri megah berlatar langit biru.

“Kami bisa tebak hujan akan segera tiba jika di sekeliling puncak Torong Besi diselimuti kabut dan awan pekat,” ujar Gaspar Sales, tua teno atau tetua adat Gincu. “Biasanya pada bulan Oktober –November,” lanjutnya.

Sebenarnya tak hanya masyarakat Gincu yang menggantungkan pembacaan musim pada  puncak-puncak torong. Penduduk kampung di sepanjang pesisir utara kecamatan Lambaleda Manggarai Timur juga.

Nelayan Sirise yang hidupnya bergantung laut dan lahan pertanian. Foto Henri-Ismail.tumblr.com

Nelayan Sirise yang hidupnya bergantung laut dan lahan pertanian.
Foto Henri-Ismail.tumblr.com

“Ada tiga torong yang biasanya digunakan sebagai penanda, Torong Besi, Torong Tumpang dan Torong Luwuk,” ujarnya.

Musim hujan dan kemarau tak bisa diragukan lagi jika ketiga torong itu memberikan pertanda. “Tapi Torong Besi induknya,” tambah Yacobus Daud, tetangga Gaspar.

Tanda-tanda yang bisa dilihat biasanya kabut tebal dan gelegar halilintar. Seolah pengumuman agar nelayan dan petani bersiap-siap. Tak lama, jika dua tanjung lainnya menyambut dengan awan atau suara gelegar halilintar, pertanda itu menjadi pasti. Warga mulai membagi kerja. Jika tidak, persediaan pangan dan penghasilan keluarga tak akan cukup untuk setahun.

Itu sebabnya Torong Besi dikenal sebagai “sang petujuk”, memberi petunjuk datangnya musim.

Torong Besi juga tempat keramat. Menurut Gaspar, warga kerap melakukan upacara adat di sana. “Salah satunya jika musim kemarau panjang, hujan tak juga datang, kami datang ke puncak torong dan berdoa meminta hujan pada Tuhan. Juga saat akan panen, kami berdoa di sana.”

Torong Besi banyak menyimpan kejadian aneh. “Tak semua orang bisa diterima. Hanya mereka yang diberkati bisa melihat kerang raksasa di sana, juga sebuah tiang rumah bercabang dua, yang tak seorang pun bisa mencabutnya dari tanah,” ujarnya.

Cerita luar biasa lainnya tentang Wani atau lebah,  atau sebutan untuk pohon madu. Bagian badan bukit hingga kaki torong banyak pohon madu,  makin mendekati puncak makin besar pohon madunya.

“Butuh  tangan lima orang dewasa bahkan lebih untuk  bisa memeluk batang pohon yang usianya ratusan tahun itu,” tambah Gaspar. Pohon-pohon itu tingginya bisa di atas 50 meter. Di  cabang dan dahan-dahan pohon inilah ratusan rumah lebah beragam ukuran bergantungan seperti papan yang pangkalnya menempel di langit-langit.

Empat pohon paling besar  ada di bawah puncak Torong Besi. “Satu pohon bisa punya 200 hingga 500 kepala rumah lebah. Rumah lebah yang paling besar bisa menghasilkan madu hingga 50 botol bir. Pada 2004, kami mendapatkan 700 botol madu”, ujarnya. Madu-madu itu dijual seharga Rp 25 ribu per botol. Tapi di luar pulau seperti Bali, harganya bisa mencapai Rp 45 ribu. Madu dipanen dua kali dalam setahun, satu di musim kemarau, dan satu kali di musim hujan. Biasanya madu musim kemarau jumlahnya lebih banyak dibanding penghujan. Rasanya juga lebih manis.

Torong Besi penghasil madu kedua terbanyak di Kecamatan Lambaleda, menyusul kampung tetangganya, Sirise. Tapi itu dulu, sebelum puncak-puncak torong itu rusak digali menjadi kawasan tambang Mangan.

“Sejak 2007, kami tak bisa membaca pertanda, tak ada lagi madu”, ujar Gaspar, lirih.

Torong Besi  dihancurkan, puncaknya kini rata. Torong Luwuk lebih parah,  dari jauh bagian yang dulunya hijau, kini terlihat seperti luka putih-kehitaman, menganga. Tak heran, Torong Luwuk dan perbukitan sekitarnya sudah hampir dua dekade digali PT Arumbai Mangan Bekti  (AMB), perusahaan yang hingga saat ini tak diketahui warga siapa sebenarnya mereka.

“Kami dengar mereka dari Jakarta”, ujar Wati Brodus, perempuan Sirise, kampungnya ada di kaki Torong  Luwuk, hanya beberapa ratus meter dari dermaga pengangkutan mangan milik perusahaan. Tapi jika ditanya lebih lanjut, siapa sebenarnya pemilik perusahaan ini, dari mana uang mereka berasal, kemana sebenarnya Mangan ini dijual. Kebanyakan warga Sirise menyatakan tidak tahu, atau menjawabnya dengan kata pembuka “Katanya”.

Sejak 1980-an, perusahaan tambang datang dan pergi dari kawasan itu, seolah sebuah kawasan tak bertuan. Semula ada PT Antam pada 1980an, PT Istindo Mitra Utama pada 1993 dan pada 1997 bergabung PT AMB  mengeruk  mangan di sana. Semua izin dikeluarkan oleh pemerintah.

Tapi pemerintah tak hadir di tengah warga saat PT AMB  melahirkan bencana bagi warga Sirise dan kampung-kampung di sekitar Torong Luwuk. Longsor dari guguran tanah yang diledakkan dan digali di atas bukit menimbun lahan-lahan pertanian di bawahnya. Kejadian ini terus berulang. Air makin sulit dicari, lahan pertanian menyempit, kesehatan warga terganggu.

Delapan tahun lalu, warga sudah mengirimkan laporan tentang gangguan kesehatan karena tambang mangan kepada Komnas Perempuan. Mereka melaporkan gangguan kesehatan, mulai batuk pilek, susah tidur, gangguan sesak napas ringan hingga berat, batuk berdarah, dada bagian kiri sakit, diare berlendir dan berdarah, juga tumor. Sayangnya tak ada tindak lanjut yang berarti.

“Tapi yang paling bikin kami sakit hati adalah dibuat bermusuhan satu sama lain,” ujar Wati.

Pada 2009, penduduk Sirise menghukum denda adat PT AMB karena masuk dan menggali lahan adat tanpa izin warga. Perusahaan harus membayar satu ekor babi, dua puluh botol moke dan rokok satu slop. Warga tak mau kawasan itu dihancurkan, seperti lahan-lahan lain milik tetangga kampungnya, Satarteu.

Perusahaan minta bantuan kampung Satarteu. Sebenarnya Sirise dan Satarteu berasal dari keturunan yang sama, yaitu warga tanah Welang, kawasan di atas perbukitan Sirise. Sayangnya, satu tetua adat di Satarteu berkhianat, dan memberikan kesaksian bahwa lahan milik orang Sirise adalah tanah adat Satarteu. Kini dua saudara itu berseteru.

Untunglah kerusakan Torong Besi belum separah Torong Luwuk. Warga Gincu dan sekitarnya berhasil menghentikan penggalian tambang PT Sumber Jaya Asia (SJA), setidaknya untuk sementara. Saat itu PT SJA sudah merambah kawasan hutan lindung. Perusakan lingkungan juga mulai terasa. Pohon-pohon madu yang tingginya lebih 50 meter itu kini tertimbun longsor, hingga puncaknya.

“Setelah menambang setahun, kami berhasil menghentikan PT SJA.  Seluruh wilayah pesisir di sini mengalami paceklik selama dua tahun sejak perusahaan beroperasi,” ujar  Gaspar. Tapi setelah dililit perkara hukum, perusahaan lain kini mengambil alih PT SJA. “Namanya Global Comodity Asia. Kami  tak tahu siapa pemilik PT SJA, katanya dari China, juga tak tahu siapa PT yang baru ini, kenapa mereka ada di sini, kami hanya lihat papannya besar dekat pelabuhan PT AMN” tambahnya.

Banyak ketidakjelasan dan ketidaktahuan menggantung di kampung-kampung  sepanjang pesisir Flores utara bagian timur ini. Perusahaan tambang datang dan pergi ke tempat itu,  bagai wilayah tak bertuan, yang tak mendapat perlindungan dari pemerintah. Ketidakpastian itu bertambah, sejak Torong Besi – sang pertunjuk hancur, dan tak lagi menjadi penanda musim.

Dimuat Majalah FORUM Keadilan No 42/ 18 – 24 februari 2013.

Foto : Henri-Ismail.tumblr.com