parit sepanjang 600 meter itu membawa lumpur ke pesisir batu gosok, foto Ferry.

parit sepanjang 600 meter itu membawa lumpur ke pesisir batu gosok, foto Ferry.

Seminggu setelah Ijin Usaha Pertambangannya keluar pada Oktober 2008, PT Grand Nusantara menjamu Fedelis Pranda. Ia diajak jalan-jalan ke Beijing China, judulnya perjalanan dinas, dananya ditanggung perusahaan. Perjalanan itu untuk melihat pengolahan emas, dan potensi wisata. Ada enam orang yang pergi dengan Bupati, termasuk istri Bupati, istri kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan hidup dan istri kepala bidang pertambangan di Dinas Pertambangan dan lingkungan hidup Manggarai Barat.

*  *  *

Fedelis Pranda menjadi pejabat sementara saat Manggarai dimekarkan  menjadi Manggarai Barat (2003-2005) hingga menjabat Bupati Manggarai Barat (2006-2010) Flores, Nusa Tenggara Timur. Saat maju Pilkada salah satu pendukungnya adalah Partai Hanura. Fedelis mengeluarkan 11 Ijin Usaha Pertambangan (IUP)  tambang emas dan Mangan pada bulan berbeda di 2008. Dua tambang emas, sisanya tambang Mangan.

Tak banyak orang Manggarai Barat tahu untuk apa sebenarnya Mangan dan emas digali di tanah Flores. Umumnya emas diketahui dipakai untuk bahan perhiasan. Namun jika semua emas dipakai untuk perhiasan mestinya tak perlu ditambang dalam skala luar biasa seperti sekarang.  India adalah negara yang banyak mengkonsumsi emas untuk perhiasan, untuk ritual budaya mereka, seperti upacara pernikahan dan lainnya. Emas banyak digunakan untuk berbagai macam keperluan, mulai alat elektronik hingga perhiasan. Tapi salah satu yang terpenting dan tak ada hubungannya dengan keselamatan warga menurut Roger Moody, peneliti Nostromo Institute London, emas dipakai  menjaga kestabilan  mata uang dunia.

Emas-emas itu ditumpuk, disimpan dan diperjual belikan oleh bank-bank sentral  di berbagai negara untuk menjaga stabilitas dolar, maupun mata uang negara mereka. Seperti China, yang sekarang menumpuk emas, untuk menjaga kestabilan Yuan. “China bahkan menambang lebih banyak emas di negara mereka, dan juga negara lain. Bagaimana dengan Mangan sejenis logam berat, yang warna batuannya hitam. Ia dibutuhkan untuk mengeraskan baja  pada pabrik peleburan baja. Logam baja digunakan untuk banyak keperluan, termasuk pembuatan motor hingga senjata.

Salah satu tambang emas di Manggarai Barat itu milik perusahaan China PT Grand Nusantara, yang mendapat IUP di kawasan batu gosok, Kawasan ini  telah ditetapkan  Perda No 30 tahun 2005 sebagai kawasan wiasata komersil.  Kawasan itu terkenal sebagai salah satu tempat snorkling terbaik di pesisir Labuan bajo. Di sana sudah ada hotel, bungalow, track jalan kaki, perusahaan  pemijahan ikan sunu dan kerapu, lengkap dengan tempat pelatihannya untuk masyarakat. Tambang itu berada di perbukitan, sementara kawasan wisata ada di pesisir. Tak jauh dari pulau Komodo yang terkenal itu.

Seminggu setelah IUPnya keluar pada bulan Oktober 2008, PT Grand Nusantara menjamu Fedelis Pranda. Ia diajak jalan-jalan ke Beijing China, judulnya perjalanan dinas, dananya ditanggung perusahaan. Perjalanan itu untuk melihat pengolahan emas, dan potensi wisata. Ada enam orang yang pergi dengan Bupati, termasuk istri Bupati, istri kepala Dinas Pertambangan dan Lingkungan hidup dan istri kepala bidang pertambangan di Dinas Pertambangan dan lingkungan hidup Manggarai Barat.  Kelompok Gereja JPIC pernah melaporkan gratifikasi ini ke Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) pada 2009 tapi tak ada tindak lanjut.

Tambang itu ditolak warga. Ia hanya beroperasi setahun, 2008 -2009. Warga membuat pagar, dan memblokade kawasan tambang berkali-kali. Meski masih mengantongi ijin eksplorasi, perusahaan telah merusak kawasan mangrove, sumber air hingga banjir lumpur di kawasan pesisir. Jika dibiarkan,  kawasan wisata di bawah akan bangkrut.

Salah satu aksi terbesar warga itu terjadi April tahun lalu, sekitar 8000 orang  berdemo di kantor Bupati , DPRD dan Polres Manggarai Barat. Rakyat Manggarai marah pada Bupati dan tak mau mendukung dia lagi. Pada Pilkada 2010, Fedelis maju lagi jadi calon Bupati untuk periode kedua, tapi warga menghukumnya,  Fedelis kalah.

Bupati baru, Agustinus Dullah mengumumkan moratorium ijin pertambangan  50 hari setelah terpilih jadi Bupati Manggarai Barat  pada 2010. Ia membatalkan 11 perijinan itu, dia bilang semua ijin unprosedural. PT Grand Nusantara meradang. Ia memperkarakan Pemda ke pengadilan karena menghentikan ijin tambang, mengajukan tuntutan kerugian perdata kepada Bupati sebesar Rp 110 Milyar pada Januari 2013.

aksi 8000 orang di DPRD, lokasi tambang dan kantor Bupati Manggarai Barat, April 2012.

aksi 8000 orang di DPRD, lokasi tambang dan kantor Bupati Manggarai Barat, April 2012.

PT Grand Nusantara mestinya ditangkap polisi, karena pada 2009, warga telah melaporkan mereka menggali 12 kanal tanpa mengantongi ijin pelepasan hutan dari Kementrian Kehutanan,  membangun parit sepanjang 600 meter, selebar 5 meter dan dalam 6 meter, memasang menara bor, tanpaAamdal. Setelah tiga tahun berlalu, kawasan perbukitan itu sekarang mengalami erosi berat,  hutan mangrovenya berlumpur, pun pesisirnya masih terlihat coklat berlumpur. Tapi polisi membiarkan laporan tahun 2009 itu tak kemana -mana hingga kini.  Apa tindakan Kementrian Kehutanan,  Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, juga Kementrian Lingkungan Hidup? Tak ada, pasif.

Lucunya, menurut data Kementrian Energi dan Sumber daya Mineral Republik Indonesia, tak ada satupun ijin tambang di Manggarai Barat yang lolos rekonsiliasi  yang mereka lakukan. Artinya tak ada ijin  tamang yang dikeluarkan di Manggarai Barat.

Pulau Flores kini diserbu banyak perusahaan tambang, baik asing maupun dalam negeri, mulai tambang Mangan, Emas, pasir besi dan bijih besi. Jumlahnya? tak ada yang tahu pasti.