machupicchu

machupicchu

Jika Machupicchu  identitas bangsa, Peru bagai mengalami kemunduran. Bangsa  yang dulunya merawat dan mengelola tanah, kini menjadi  penghancur tanah air dengan memilih industri pertambangan sebagai penopang utama ekonominya.

* * *

Di  Machupicchu, saya bertemu  Liliana Cabalero Vargas. Topinya berwarna pink, sepatunya juga. Ia masih muda, rambutnya panjang diikat ekor kuda, bibirnya ranum, badannya langsing, baru 26 tahun. “Maaf, apakah anda butuh pemandu”, tanyanya mendekati saya di pintu masuk Machupicchu, salah satu taman warisan dunia itu.

Sudah tiga tahun Lili – panggilannya,  menjadi pemandu wisata di tempat wisata  paling terkenal di Peru itu, bahkan mungkin di dunia. “Tapi saya merencanakan kembali ke bangku sekolah tahun depan, meneruskan ke akademi polisi, setelah sekolah tiga bulan, saya bisa menjadi polisi  seperti suami saya,” ujarnya.

Cerita Lili mungkin tak ada di Indonesia, seorang istri Polisi bekerja jauh di dalam hutan, meninggaln suami dan  anak perempuan mereka yang baru berusia 17 bulan bersama neneknya di Cuzco. Jarak  tempat tinggal Lili di Aguas Calientes,  stasiun terakhir menuju Machupicchu sekitar 3,5 – 4 jam dari Cuzco.  Apa yang membuatnya jauh-jauh datang ke tempat ini?

“Uang” ujarnya, pasti.

“Suami saya hanya bergaji 1000 soles sebulan. Tak akan cukup untuk masa depan anak kami. Saya harus mulai menabung,” tambahnya. Soles adalah mata uang Peru, salah satu negara di Amerika Selatan. Satu soles sekitar Rp 4000 rupiah. Jika beruntung, penghasilan Lili bisa lebih besar dari suaminya.

“Tiap hari paling banyak saya mengantar  dua orang ke dalam taman. Satu kali memandu membutuhkan waktu 2 – 3 jam. Tapi kadang tak ada seorangpun yang memakai saya”.  Satu kali jasa memandu untuk satu hingga dua orang, Lili bisa mendapat 100 – 120 soles.  Tapi dalam grup berisi 5 – 6 orang, ia minta bayaran 30 soles per orang. Jika pengunjung puas dengaan layanannya, ia bisa mendapatkan tip sekitar 10 – 25 soles.

“Kadang saya menurunkan tarif, seperti kemarin ada wisatawan dari Argentina yang meminta dipandu. Tapi ia hanya punya 60 soles, terpaksa saya terima karena sepi pengunjug”, tambahnya.

Tapi ini hari Sabtu, tempat ini kelihatan sibuk, pengunjung ramai. Menurut Lili, tiap tahun situs warisan dunia ini dikunjungi lebih 2 juta wisatawan. Atau sekitar 5500 orang rata-rata tiap harinya. Hebatnya, mereka mau membayar 128 soles, atau sekitar Rp 500 ribu per orang untuk tiket masuk saja. Tak ada fasilitas khusus. Pengunjung juga harus membayar bis yang mengangkut mereka dari Aguas Calientes ke pintu masuk Machupicchu yang harganya 12 soles. Dibutuhkan waktu 20 menit untuk sampai ke lokasi, setelah melewati jalan terjal, mendaki dan berkelok-kelok.  Taman ini buka sejak pukul 6 pagi hingga 5 sore, tujuh hari dalam seminggu.

Banyak sekali larangan yang harus dipatuhi untuk masuk ke Machupicchu. Pengunjung tak boleh merokok, tak boleh makan di dalam taman, buang sampah, memanjat tebing, tak boleh bikin rute baru, tak boleh membawa barang lebih dari 20 kilogram, dan mengganggu tanaman dan satwa di sekitar. Dan hasilnya patut dipuji. Tak ada satupun sampah plastic maupun kertas d terlihat dalam kawasan warisan dunia ini. Meski belakangan, pengelola taman agak longgar untuk urusan makanan. Aturannya tetap dilarang, tapi pengunjung dibiarkan membawa air dan makanan kecil.

Biasanya pengunjung hanya dibolehkan membawa biskuit, bukan makanan untuk piknik keluarga yang biasa dilakukan di sebuah taman wisata. Kebanyakan mereka makan juga secara sembunyi-sembunyi, mereka kelihatan malu saat ketahuan mengunyah makanan. Sebenarnya ada restoran di  kantin di dekat pintu masuk. Tapi harga makanannya mahal. Satu vegetarian sandwich saja harganya 20 soles, plus air mineral botol 625 ml bisa mencapai 24 soles.

“Biaya hidup disini lebih mahal dibanding Cuzco, saya harus berhemat” ujar Lili. Itu sebabnya ia lebih suka memasak di rumah. Meski untuk itu ia harus bangun sangat pagi, dan jam 5.30 sudah menunggu pengunjung di gerbang Machupicchu.

Satu bulannya, Lili harus mengeluarkan 400 soles untuk membayar kamar kosnya, sekitar 600 – 700  soles untuk makan, dan 300 soles untuk transpornya ke Machupicchu.

“Setelah tiga tahun bekerja disini, saya mulai berpikir, mungkin lebih baik saya kembali ke Cuzco dan mencari pekerjaan tetap. Saya mau jadi Polisi saja seperti suami saya”, ujarnya. Kini ada dua polisi di keluarga Lili, suami dan kakak laki-lakinya. “Anak saya tambah besar, saya harus mendapat penghasilan tetap”.

Pendapatan pemandu memang tak tentu, bergantung pada pengunjung, dan asal pengunjungnya. Bulan Mei – Agutus sebagian besar pengunjung dari Eropa dan Amerika Serikat, Kanada. Sementara bulan sisanya banyak pengunjung dalam Negeri dan wilayah Amerika Selatan lainnya. “Pengunjung dari Eropa bisanya memberikan tip lebih banyak, tapi wisatawan berbahasa Spanyol biasanya sedikit yang memberi tips”.

Jika pengunjung puas, mereka tak segan memberi tips. Seperti yang didapat Edy, pemandu yang mengantar saya dalam rombongan besar. Edy adalah bagian biro pemandu wisata Champi. Jam 8 pagi ia sudah siap, berdiri di depan  pintu masuk dengan bendera warna hitam.  Rombogan kami ada dua puluh orang,  dari Indonesia, hanya saya dan Abdi Suryaningati,  teman perempuan dari Jakarta. Ada dua pemandu yang  mendampingi rombongan ini, satu pemandu berbahasa Spanyol, satu lainnya Inggris – si Edy ini.

Edy masih muda, taruhan usianya masih di bawah kepala tiga. Pagi itu ia menggunakan baju putih lengan panjang dan celana Jins biru. Keluarga Edy hidup dari denyut wisata kawasan ini. Ibunya memiliki cafe pas  pinggiran rel kereta api Aguas Calientes. Namanya Adela Cafe.  “Saya sarankan kalian  makan siang di cafe ibuku,  lebih murah dan ada pisco source gratis bagi setiap pengunjung”, ujarnya promosi. Pisco adalah minumaman beralkohol khas Peru yang  dibuat dari anggur, biasanya disajikan dengan jeruk nipis, rasanya asam pahit, enak dan segar.

Edy selalu membuka penjelasannya dengan kata “teman-temanku”.  Ia disukai anggota rombongan, tak hanya karena gayanya yang semi formal sehingga kelihatan lucu di tengah keliaran alam Machupicchu. Tapi juga karena infonya yang  kaya,  lengkap dengan gambar-gambar  yang dibawanya dalam sebuah map.

Machupicchu berada di atas lembah Urubamba di Peru.  Kawasan warisan dunia ini luasnya mencapai  32.500 ha.  Machupicchu  artinya gunung tua dalam bahasa quechua. Sebenarnya ada dua puncak gunung mengapit situs warisan dunia yang disahkan UNESCO PBB pada 1983 ini.  Machupicchu dan Waynapicchu, atau gunung muda.

Di bawah kedua gunung terbentang bangunan-bangunan kuno bangsa Inca. Di Musium inca disebutkan meski kabarnya telah ditemukan pada 1867, dunia luar tak mengetahuinya hingga seorang sejarawan Amerika, Hiram Bingham  mengunjunginya  pada 1911. Situs Machupicchu lolos dari jarahan Spanyol yang menjajah Peru sekitar abad  16. Tentara Spanyol tak berhasil menemukan komplek bangunan yang ada di tengah hutan dan dikeliliingi gunung-gunung ini.

Machupicchu mengagumkan. Bangunannya benar-benar dikelilingi puncak gunung. Mengunjunginya, seperti menelusuri pinggiran sungai, hutan lebat yang liar yang diapit tebing-tebing hijau, sesekali jalan di depan  kita tak  terlihat karena  ditutup kabut yang datang dan pergi dengan cepat. Indah dan mistis.

Namun  tiba-tiba di depan kita terbentang sebuah kota, sebuah perdaban. Komplek Kota lengkap dengan pembagian fungsinya, ada sektor urban atau perkotaan, dan sektor pertanian. Teras-teras  yang kokoh  memanjang naik dari dasar kota hingga puncaknya, tempat bangunan-bangunan berbaris rapi.  Menurut museum Inca ada lebih 700 teras di kota ini. Teras-teras itu lebarnya hingga 2 meter. Kata Edy, teras-teras ini memiliki dua fungsi, di sektor pertanian terasnya lebih lebar untuk bertanam, sementara di sektor urban fungsinya untuk menopang  bangunan-bangunan –  selain fungsi utamanya sebagai jaringan drainase bersama kanal sepanjang hampir satu kilometer.

Tapi sebenarnya bangunan yang kita lihat di Machupicchu belum apa-apa, menurut Kenneth Wright, insinyur  dari Wright Water Engineers Denver AS. Sebab sekitar 60 persen konstruksi  kota ini  dilakukan di bawah tanah. Khususnya bangunan fondasi dan batuan untuk membuat sistem drainase.

“Tak hanya  sistem pengairan yang baik, tapi juga tekniknya yang ajaib”, ujar Wright. Inilah kehebatan bangsa Inca, membangun kota pada kemiringan ekstrim, rawan gempa dan curah hujan tinggi. Itu bahkan dilakukan saat mereka belum mengenal bahasa tulis, juga tak punya besi atau baja untuk menguatkan atau menyambungkan bangunan. Sebagian besar  bangunan dibuat dari batu granit, tanah liat dan kayu.

Curah hujan kawasan ini memang cukup tinggi. Terbukti, pada Januari 2010,  hujan lebat menyebabkan banjir yang mengubur dan  menghanyutkan jalan, termasuk jalur kereta api menuju Machupicchu. Lebih  4000 penduduk lokal dan turis terjebak, dan harus diselamatkan dengan pesawat udara. Machupicchu ditutup selama tiga bulan, sebelum dibuka kembali 1 April 2010.

“Semula Machupicchu dianggap sebagai kota yang hilang milik bangsa Inca,  belakangan ada temuan lain. Machupicchu semacam tempat belajar, seperti universitas tempat keluarga bangsawan mempelajari banyak hal, khususnya astronomi”, ujar Edy. Jhon Verano, peneliti dan antropologis dari Universitas  Tulane, New Orleans Amerika Serikat meyakini bahwa Machupicchu adalah tempat retret keluarga kerajaan dari abad ke-15 Inca masa dinasti Pachacuti.

Dua tahun lalu, National Geographic bahkan memaparkan lima teori tentang apa sebenarnya Machupicchu, teori Verano salah satunya. Pertentangan teori itu umumnya meletakkan apakah tempat ini memiliki fungsi religius atau administrasi. Tapi menurut Guillermo Cock, arkeolog  yang tinggal di Lima, menyarankan tak melihat itu sebagai pertentangan. Sebab tidak seperti banyak budaya hari ini, Inca tidak membedakan antara gereja dan Negara, sehingga gagasan bahwa sebuah situs bisa melayani tujuan ganda itu bisa diterima. Menurutnya, dua ide tersebut terintegrasi.

Sebab, “Dimana saja kaisar hidup adalah suci, karena ia suci”, ujarnya.

Tapi Edy – sang pemandu, lebih suka teori Jhon Verano. Menurutnya, hingga saat ini “the lost city of Inca”  masih legenda. Ia percaya pengetahuan tentang Inca akan terus tumbuh, banyak hal yang tak diketahui akan terugkap. Seperti temuan trail baru, atau jalur yang biasa dipakai bangsa Inca, baru ditemukan  lagi sembilan bulan lalu. Ia menunjuk ke arah dinding sebuah gunung di utara Machupicchu. “Baru separuh dibersihkan, tempat itu semula tak terlihat dan orang berpikir itu  hanya dinding  sebuah gunung, mungkin jalan itu menghubungkan kota Inca satu dengan lainnya”, ujarnya yakin.

Yang mengherankan, kenapa bangsa Inca membangun situs di kawasan dengan ketinggian 2.430 meter di atas permukaan laut ini. Tak bisa membayangkan seberapa banyak pekerjaan dan materi yang dibutuhkan. “Apa alasan mereka membuat bangunan di kawasan pegunungan ini?”, tanya Edy, menjajal pengetahuan anggota rombongan.

Ternyata jawabnya satu,  air.

“Bangsa Inca membutuhkan waktu 50 tahun dan 3000 pekerja untuk membangun Machupicchu”, ujar Edy.   “Mereka menemukan sumber air di atas, dan menggunakannya untuk pertanian dan kegiatan lainnya.  Ada dua lagi alasan lainya,  ketinggian membuat bangsa Inca merasa dekat dengan penciptanya, dan juga lebih mudah melihat musuh dari ketinggian”.

Yang tak kalah mengagumkan adalah pengetahuan bangsa Inca dalam ilmu perbintangan. Di sini ada Intiwatana, sebuah bangungan khusus untuk observasi astronomi. Dari sini,  penghuni kota melakukan pengamatan bagaimana posisi matahari dan bumi, membaca tanda kapan musim berganti, dan kapan musim tanam atau ritual harus dilakukan bangsa Inca.

“Coba siapa yang punya kompas, mari kita cocokkan arah mata angin dengan batu mata angin ini”, ujar Edy sambil berjongkok disebuah batu berbentuk trapesium memanjang. Salah satu anggota rombongan menjulurkan handphonenya yang telah disetel menjadi kompas. Jarum kompas hanya bergerak sebentar, dan langsung menunjuk sejajar dan searah ujung-ujung batu. Empat arah mata angin utama, utara-selatan dan  barat-timur.

Beberapa bangunan lainnya, ternyata juga berkait dengan pengetahuan astronomi mereka, misalnya pintu matahari (sun gate), kuil matahari (temple of the sun), juga  tiga  jendela (the three windows) tempat cahaya matahari masuk, menandai pergantian musim.

Setelah melewati Intiwatana, perjalanan menjeljah bangunan tinggal separuh.  Sesekali Edy menyapa pemadu lain yang berpapasan dengan rombongan kami. Beberapa dari mereka tak membawa bendera, menurut Edy mereka adalah pemandu lepas. Saya jadi ingat Lili, pemandu yang baru saya kenal di Machupicchu. Berbeda dengan Edy, yang bergabung dengan biro wisata, yang tak perlu menunggu dan menawarkan jasa  sendiri pada pengunjung. Lili harus berburu.

“Kadang  seperti pengemis, kami mendekati pengunjung, menawarkan jasa, tawar menawar untuk bersepakat harga”, ujar Lili.

Ada sekitar 100 pemandu di kawasan ini, namun tak banyak perempuan yang menjadi pemandu. Tapi pasang surut memandu bukan hal baru bagi Lili, ia pernah menjadi pemandu jarak jauh. Selama dua tahun memandu di Inca Trail, sebelum sebuah kecelakaan menghentikannya.

Inca Trail adalah nama paket perjalanan dari Cuzco ke Machupicchu, menelusuri hutan dengan berjalan kaki selama 4 malam  5 hari. Rute yang dipercaya  merupakan jalur Chasquis – sang penyampai pesan,  mereka orang-orang yang dilatih sejak kecil untuk  menjadi pelari dan menyampaikan pesan dengan cepat dari satu tempat ke tempat lainnya. Biaya Inca trail mahal, tiap orang  harus membayar  sedikitnya 300 dolar AS.

Sebelum menikah, Lili dibantu beberapa orang  porter bisa mengantar para wisatawan menjelajahi rute paling ekstrim Inca trail. “Sayangnya, saya mengalami kecelakaan pada tour yang terakhir, empat  tahun lalu. Saya terpeleset saat membantu salah satu peserta yang mau mengambil foto di ketinggian”. Ia terperosok, kakinya patah. Ia harus diangkut ke Cuzco untuk mendapatkan pengobatan, dokter melarangnya berkegiatan berat dan ia harus  beristirahat dari memandu  selama setahun.

“Saya hanya tinggal di rumah, ilmu saya tak terpakai, bahasa inggris saya juga mulai tak terasah. Padahal penghasilan dari situ lebih baik. Saya bisa mendapatkan 300 dolar tiap mengantarkan mereka”, tuturnya.

Itu masa-masa sulit buat Lili, yang biasa aktif sejak kecil. Ia lahir di Urumba, di daerah  Lembah bangsa Inca, yang terkenal sebagai Secret of  Valey, kawasan lembah yang kaya, lahan pertanian raksasa yang menghijau, sekaligus kawasan wisata yang terkenal, meski tak seharum nama Machupicchu. Lili menyelesaikan studinya di Institut Pariwisata selama tiga  tahun, sebelum kemudian belajar menjadi pemandu.

“Saya tak belajar bahasa Inggris secara khusus, dari mana orang tua saya dapat uang untuk itu. Saya belajar sendiri, sambil memandu sambil bertanya”, ujarnya. Bahasa Inggris Llili memang agak tersendat, ia kerap berhenti mencari kata yang tepat untuk menyampaikan maksudnya. Saya sama sekali tak keberatan, Inggris saya pun setali tiga uang.

Tapi bahasa bukan kendala mengunjungi Machupicchu, sebab tempat ini sangat terkenal sehingga informasi mudah didapat melalui internet, termasuk memesan hotel hingga mengikuti paket tour yang ditawarkan beragam biro wisata.

Tak terasa, kami sudah berjalan sekitar 2,5  jam menelusuri  lorong-lorong  Machupicchu. Edy hampir merampungkan tugasnya sebagai pemandu. “Sebelum kita akhiri saya ingin menanyakan tiga hal pada kalian”, ujar Edy sambil berdiri di depan rombongan.

“Pertama, bagaimana cara menyebutkan nama Cuzco dengan benar”. Kami lantas menirukan cara dia menyebutkan nama kota itu. “Baca Kosko, tanpa huruf z,  ayo ucapkan Kosko”, ujarnya kencang. Kami ramai-ramai menirukannya.

Pertanyaan kedua, Apa nama tiga binatang suci bangsa Inca. “Elang, Puma dan Ular”, ujar salah satu peserta diikuti gumaman yang lain.  Terakhir, dia menanyakan apa arti tiga sudut kanan bawah dalam symbol bangsa Inca. Kami menjawab hampir serempak, “tidak boleh bohong, tidak boleh mencuri dan tak boleh malas”.

Edy menyudahi perjalanan  ini dengan perasaan gembira dan menyenangkan. Kami menutupnya dengan tepuk tangan dan menyampaikan berkali-kali, ‘muchas gracias Edy’. Terima kasih banyak. Edy.

Esoknya kami harus kembali ke Cuzo, dan terbang menuju Lima, ibu kota Peru. Namun mengakhiri kunjungan Machupicchu, kembali ke Lima, membuat saya bagai berjalan mundur. Pindah dari kemegahan dan kecerdasan warisan peradaban suku Inca kepada potret kekinian Peru, sebuah Negara yang kini bergantung pada industri keruk.

Lahan, air dan pertanian yang dulunya menjadi penopang hidup warga di pedesaan kini berebut dengan perusahaan-perusahaan tambang asing yang  menggali emas, tembaga dan mineral lainnya dari tanah mereka. Kini Peru lebih di kenal karena konflik dan kerusakan lingkungannya.

Saya mengenal  Peru  tujuh tahun lalu dari Stephanie Boyd, sutradara film Charopampa the Price of Gold. Saya tonton film ini berkali-kali. Ia bercerita bagaimana penduduk Charopampa dibuat pontang panting, menderita penyakit aneh, dan konflik satu sama lain sejak truk  perusahaan tambang asal Amerika Serikat, Newmont  menumpahkan  Merkuri sepanjang jalan desa mereka. Boyd  juga menyutradarai  Tambogrande: Mangos, Murder, Mining. Film tentang para petani mangga di Peru yang menolak tambang dan pemimpinnya dibunuh, belakangan penduduk kota Tambogrande melakukan refendum menolak tambang di sana.

Konflik sumber daya alam kini masalah utama Ollanta Humala, Presiden Peru yang terpilih dua tahun lalu. Selama satu tahun kepemimpinannya, sedikitnya 17  orang meninggal dan 430 lainnya terluka dalam protes yang sebagian besar karena konflik pertambangan. Popularitas Humala turun gara-gara konflik yang kerap berakhir dengan kekerasan. Terakhir, protes  dan bentrok terjadi di tambang Conga milik Newmont, mengakibatkan lima orang tewas dan puluhan lainnya terluka.

Memang setiap peradaban punya sejarahnya sendiri. Namun jika Machupicchu identitas bangsa, Peru bagai mengalami kemunduran. Bangsa  yang dulunya merawat dan mengelola tanah menjadi  penghancur tanah air, dengan memilih industri ekstraktif sebagai penopang utama eknominya.

Penulis : Siti Maimunah, foto : Abdi Suryaningati